Tampilkan postingan dengan label psikologi sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

Benarkah Media Sosial Malah Merusak Persahabatan?
KOMPAS.com - Media sosial saat ini sudah begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan asmara, pertemanan, hubungan anak dan orang tua, pekerjaan, hingga kebiasaan berkomunikasi sangat sekarang ini umumnya berkaitan dengan aktivitas di media sosial.
Nah, pertanyaannya, apakah media sosial bisa merusak persahabatan yang sesungguhnya?
Menurut Jennifer Golbeck PhD, ilmuwan komputer dan profesor dari University of Maryland, Amerika Serikat, meski berkomunikasi secara online, persahabatan tetaplah persahabatan. Media sosial tidak berpengaruh pada kualitas persahabatan seseorang, justru semestinya makin erat.

Saat ini memang banyak penduduk dunia yang menghabiskan banyak waktu di media sosial. Kalangan muda, kata Golbeck, menggunakan lebih banyak media sosial dibandingkan kalangan usia lainnya.
Namun, kalau Anda perhatikan, saat akhir pekan kafe, pusat pebelanjaan, dan pertunjukan musik masih ramai dikunjungi oleh orang.

"Berarti mitos bahwa kalangan muda meninggalkan interaksi sosial berupa tatap muka ketimbang duduk sendirian di dalam kamar, tenggelam di depan layar komputer adalah salah besar," ujar Golbeck.

Pada dasarnya, hubungan sosial yang erat dibangun dengan beberapa cara, seperti menghabiskan waktu bersama, menceritakan rahasia, saling membantu, dan membagi pengalaman emosional. Nah, interaksi secara online dapat memudahkan waktu untuk berkomunikasi dengan teman, misalnya memberi komentar, memberi "like" dan memberikan saran.

"Media sosial juga adalah cara yang bagus untuk membagi cerita. Dengan kata lain, interaksi melalui media sosial online dapat membantu menguatkan hubungan offline secara aktif dalam banyak cara. Media sosial juga membantu menjaga hubungan yang terpisah jarak," jelas Golbeck.

Kesimpulannya, media sosial memang sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial kita. Namun, menjaga hubungan secara langsung juga tidak kalah pentingnya. Jadi, sebaiknya Anda menyeimbangkan penggunaan media sosial dengan bertemu langsung dengan teman-teman.

Sumber :

Penulis :
Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor :
Syafrina Syaaf
PERILAKU SOSIAL 
Mengenai bentuk perilaku sosial, peneliti menggunakan teori yang ditemukan Max Weber. Waber membuat peralihan dari aksi sosial ke kehidupan sosial umum adalah tipologi aksi. Aksi diklasifikasikan ke dalam empat macam untuk keperljuan penyususunan komponen-koponen, yang tercakup di dalamnya.
Untuk lebih jelasnya, berikut tipe tindakan sosial yang dianggap sebagai tipe ideal:[1]
1)      Rasional instrument
Tingkat rasionalitas yang paling tinggi ini meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang digunakan untuk mencapainya. Hal ini mencakup pengumpulan informasi, mencatat kemungkinan-kemungkinan serta hambatan-hambatan yang terdapat dalam lingkungan, dan mencoba untuk meramalkan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dari beberapa alterinatif tindakan itu. Akhirnya suatu pilihan dibuat atas alat yang dipergunakan yang kiranya mencerminkan pertimbangan individu atas efisiensi dan efektivitasnya. Sesudah tindakan itu dilaksanakan, orang itu dapat menentukan secara obyektif sesuatu yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai.
2)      Rasionalitas yang berorientasi nilai
Dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar; tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya. Nilai-nilai akhir bersifat nonrasional dalam hal di mana seseorang tidak dapat memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus dipilih.
Lebih lagi, komitmen terhadap nilai-nilai, pertimbangan-pertimbangan rasional mengenai kegunaan, efisiensi, dan sebagainya tidak relevan. Juga orang tidak memperhitungkannya (kalau nilai-nilai itu benar-benar bersifat absolut) dibandingkan dengan nilai-nilai alternatif. Individu mempertimbangkan alat untuk mencapai nilai-nilai seperti itu, tetapi nilai-nilai itu sendiri sudah ada.
3)      Tindakan tradisional
Tindakan tradisional merupakan tipe tindakan sosial yang bersifat nonrasional. Kalau seorang individu memperlihatkan perilaku seperti itu digolongkan sebagai tindakan yang sadar, atau perencanaan, perilaku seperti itu digolongkan sebagai tindakan tradisional. Individu itu akan membenarkan atau menjelaskan tindakan itu, kalau diminta, dengan hanya mengatakan bahwa dia selalu bertindak dengan cara seperti itu atau perilaku seperti itu merupakan kebiasaan baginya.
4)      Tindakan afektif
Tipe tindakan ini ditandai oleh perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Seseorang yang sedang mengalami perasaan meluap-luap seperti cinta, kemarahan, ketakutan atau kegembiraan, dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi, berarti sedang memperlihatkan tindakan afektif. Tindakan itu benar-benar tindak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideology, atau kriteria rasionalitas lainnya.[2]



[1] Goerge Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 396

[2] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, terj. Robert M. Z. Lawang , (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), hlm. 220-221